Forum KKG wadah profesionalisme guru

Dalam meningkatkan profesinalitas guru banyak cara yang harus dilakukan agar kemampuan seorang pendidik selalu berkembang, misalnya dengan mengikuti diklat, workshop dan tak kalah pentingnya yaitu KKG di Guslah maupun KKG yang ada di kecamatan.

Kepemimpinan adalah proses penyelesaian sesuatu melalui aktivitas orang lain. Guru sebagai pemimpin harus dapat mempengaruhi, mengarahkan, membimbing, dan memotivtasi siswa agar dapat belajar. Mengajar merupakan serangkaian proses pendidikan untuk membantu siswa lebih memahami dan menguasai sesuatu. Guru dalam kelas berperan sebagai pemimpin. Tugasnya adalah mempengaruhi siswa melalui pengembangan organization of learning atau pengorganisasian pembelajaran. Sukses pembelajaran bergantung pada kemampuan guru memimpin dan mengorganisasikan pembelajaran dalam kelas sehingga dapat mewujudkan produk belajar sesuai dengan tujuan. Mengajar memerlukan dukungan suasana yang kondusif dan proses yang baik untuk mengembangkan pengalaman siswa sehingga menjadi pengalaman yang produktif dalam interaksi sosial yang efektif. Guru dalam proses ini berfungsi sebagai pemimpin. Suasana belajar memberikan ruang yang luas untuk berkreasi karena hati dan pikiran siswa yang terbuka. Pembelajaran yang efektif memerlukan dukungan yang baik dari berbagai komponen, di antaranya : 1. Kesiapan psikologis siswa atau grup untuk belajar pembelajar 2. Suasana lingkungan yang mendukung siswa beraktivitas. 3. Fasilitas, tempat dan waktu pertemuan yang jelas, buku dan bahan materi lain untuk pembelajaran 4. Prosedur yang rapi dan dipahami bersama (rutin dan terjadwal, atau bervariasi) yang menunjang kegiatan presentasi, diskusi dan evaluasi. 5. Pentahapan yang jelas sehingga guru dan juga siswa mengetahui bagaimana pembelajaran akan berlangsung dan apa target yang mereka hendak capai. 6. Seluruh bagian sumber daya diintegrasikan untuk mendukung pencapaian yang optimal, pemeran pengatur di sini adalah guru. Mengajar adalah mengorganisasikan orang-orang agar mengerahkan pikiran, perhatian, dan usaha sehingga mencapai tujuan yang diharapkan. Mengajar adalah kegiatan pengorganisasian. Hal tersebut menegaskan pentingnya peran seorang guru yang tidak dapat digantikan dalam fungsi organisator. Tugas seorang organisator adalah menggerakan kelompok dan individu berperan efektif mengembangkan potensi dirinya dalam mencapai tujuan bersama. Pemimpin yang efektif menyebabkan orang-orang mengembangkan potensi individunya dalam kerja sama kelompok. Dalam hal ini peranan utama guru sebagai organisator pembelajaran memiliki karakter sebagai berikut : 1. Organisator yang baik bukanlah seorang otokrat. Guru tidak membuat semua keputusan atau mencoba mengarahkan setiap siswa secara detail mengenai apa yang harus dilakukan, bagaimana cara melakukan dan kapan melakukan sesuatu. Jangan mengajari siswa memotong kayu, namun mintalah kepada mereka membuat kapal layar yang dapat berlayar di tengah samudra. 2. Organisator yang baik menunjukkan kematangan kepemimpinan (leadership) yang positif agar dapat berfungsi secara efektif dalam menjelaskan tujuan dan menggerakan siswa mencapai hasil yang telah ditargetkan. 3. Pemimpin yang efektif memahami masalah atau kesulitan siswa dalam belajar sehingga dapat menentukan formula pemecahan masalah sesuai dengan kebutuhan siswa belajar. 4. Organisator yang baik membantu kelompok dan individu untuk menemukan, memformulasikan, dan menjelaskan tujuan yang ingin mereka raih. Guru tidak melulu memberitahukan siswa bahwa mereka harus belajar dan melakukan ini itu. 5. Organisator yang baik mendelegasikan dan mendistribusikan tanggung jawab seluas mungkin. Guru mencoba mengajarkan bagaimana siswa mengatur diri pada urusan mereka secara kolaboratif. Mengembangkan kolaborasi tim membutuhkan berpengalaman sebagai organisator yang juga berfungsi sebagai pemimpin dan pengarah. Selagi kelas belajar bagaimana bekerja secara tim, dan masing-masing individu belajar mengendalikan pelajaran mereka, maka fungsi organisator berangsur-angsur lebih ke arah pendamping. 6. Organisator yang baik mendorong dan menghargai inisiatif. Membiarkan inisiatif berkembang bebas sepanjang tidak menlenceng dari jalur untuk mencapai tujuan. Inisiatif harus terkait dalam ruang lingkup pencapaian tujuan bersama kelas. 7. Organisator yang baik lebih mengedepankan membangun kekuatan daripada mengidentifikasi kelemahan yang ada. Guru sebaiknya berasumsi dan berprinsip bahwa setiap siswa mampu memberikan prestasi dan kontribusi, walaupun prestasi tersebut sangat rendah. Oleh karena itu, pemimpin wajib menghargai kecepatan dan perubahan serendah apa pun. 8. Organisator yang baik mendorong kritik diri dan evaluasi diri di dalam grup. Sebagai seorang pemimpin, pengarah, dan pendamping, organisator harus dapat mengungkapkan gambaran pencapaian yang telah diraih dan di bagian apa mereka telah gagal. Namun demikian, organisator juga harus mengembangkan kemampuan bagi setiap anggota grup agar mereka dapat melihat dan menilai sendiri prestasi dan kegagalan yang telah mereka lalui. 9. Organisator yang baik memelihara kontrol , karena tanpa kontrol dan seorang pengontrol, dan bekerja keras secara berkelanjutan untuk mengembangkan sistem kontrol diri sendiri demi mencapai tujuan bersama. 10. Oganisator membangun tanggung jawab sehingga tiap orang berinisiatif untuk menjaga mutu melalui optimalisasi usaha dalam memenuhi kewajibannya. 11. Organisator mendelegasikan kewenangan kepada siswanya, memberikan ruang kepada siswa untuk menyelesaikan tugasnya melalui pengembangan inisiatif masing-masing individu sepanjang dapat menghasilkan produk yang terbaik. 12. Organisator yang baik memantau perkembangan proses dan progres belajar sehingga berdasarkan itu guru melalukan perbaikan pelayanan belajar secara bekelanjutan. Uraian di atas merupakan beberapa karakteristik operasional dari seorang organisator yang baik. Karakter seorang guru sebagai organisator pembelajaran. Prestasi pemimpin dinilai dari seberapa besar keunggulan bersama dapat diwujudkan. Kekuatannya terletak pada seberapa efektif mengarahkan, mendorong, membimbing, dan memotivasi siswa mengembangkan potensi dirinya melalui kerja sama tim untuk mencapai tujuan bersama.

Mutu dan Standardisasi

Peningkatan dan penjaminan mutu pendidikan saat ini telah menjadi agenda yang sangat penting pada seluruh lembaga pendidikan di Indonesia. Hal ini tidak hanya untuk memenuhi harapan undang-undang, namun juga terkait erat pada penjaminan posisi bangsa dalam persaingan dengan bangsa-bangsa lain di masa depan. Salah satu penentunya adalah terjaminnya pendidikan yang lebih bermutu.

Mutu adalah terpenuhinya persyaratan dan tahan dalam penggunaan (Juran, 1995). Sesuatu yang bermutu berarti memenuhinya kebutuhan konsumen, bebas dari kerusakan, serta memenuhi kepuasan (Deming, 2000). Mutu adalah terpenuhinya kebutuhan dan kepuasan pelanggan (ISO:2000). Mutu merupakan ide yang dinamis sehingga tidak dapat didefinisikan secara final. Di samping itu, mutu juga memiliki kelas. Mutu bukan atribut pada suatu produk, namun mutu melekat pada produk itu sendiri. Sallis (2002) menyatakan bahwa mutu yang menjadi pembicaraan sehari-hari memiliki sifat absolut, sedangkan mutu bagi para pekerja  termasuk mutu pendidikan bersifat relatif. Pelanggan menetapkan secara mutlak mengenai mutu suatu produk, sedangkan pekerja mengukur mutu secara relatif. Para pekerja menentukan mutu dengan menggunakan sistem pengukuran sehingga di dalam mutu terkandung dua aspek yaitu pengukuran yang melahirkan spesifikasi (kriteria) dan kesesuaian dengan harapan pelanggan.

Mutu terkait dengan konteks sistem. Mutu terhubung pada dimensi input, proses, output dan outcome. Juran (1995) menyatakan bahwa mutu adalah terpenuhinya persyaratan. Jadi, sebelum suatu produk dihasilkan maka perlu ada kriteria mutu yang ditetapkan terlebih dahulu. Kriteria minimal yang harus dipenuhi pada suatu sistem disebut standar. Oleh karena itu, sesuatu yang memenuhi standar adalah sesuatu yang telah memenuhi batas atau kriteria minimal. Lebih lanjut, Sallis (2002) menyatakan bahwa  pelayanan dan produk harus memenuhi standar yang memiliki karakter :

(1) sesuai dengan spesifikasi

(2) handal dalam penggunaan

(3) produk tanpa cacat

(4) handal digunakan sejak pertama kali dan pada setiap waktu.

Deming (2000) dan ISO menempatkan konsumen pada dimensi utama, artinya mutu adalah memenuhi kebutuhan dan kepuasan konsumen. Oleh karena itu mutu merupakan bagian penting dari strategi pelayanan.

Penjaminan Mutu pendidikan

Pendidikan pada hakekatnya menyangkut mutu pembelajaran. Bagaimana sekolah memfasilitasi siswa memperoleh pengalaman belajar, mengembangkan potensi dirinya secara optimal, mengembangkan potensi dirinya secara alamiah. Pada prinsipnya mutu pendidikan tidak lepas dari kerangka utamanya yaitu aktivitas belajar. Institusi pendidikan terikat pada harapan dapat melaksanakan pembelajaran dengan metode yang variatif sehingga memenuhi kebutuhan siswa agar dapat belajar. Memahami secara mendalam siswa yang dididiknya, gaya belajarnya, potensi intelektualnya, dan melayani siswa secara fleksibel sehingga dapat belajar dengan tuntas sesuai dengan target yang ditetapkan (Sallis, 1993).

UNESCO (2002) menyatakan bahwa secara universal mutu pendidikan dapat dilihat dari 5 dimensi yaitu (1) apa yang siswa peroleh (2) lingkungan pendidikan (3) isi (4) proses (5) outcomes. Poros mutu pendidikan bertumpu pada apa yang diperoleh siswa dan hasil belajar seperti apa yang dapat diwujudkan. Hasil belajar dapat ditunjukkan dalam bentuk pengetahuan, keterampilan dan sikap. Penegasan ketiganya tercermin pada kompetensi  siswa. Idealnya pengetahuan yang semakin tinggi tercermin dalam keterampilan dan sikap hidupnya. Siswa yang telah terdidik seharusnya tercermin pada kebersihan pakaian, kerendahan hati dalam bertutur kata, tegas dalam mempertahankan kebenaran, berani memperjuangkan keyakinan yang benar.

Semua sikap di atas harus berkembang melalui berbagai latihan di sekolah, seperti yang ditunjukkan dengan sikap kesalehan dalam interaksi dengan teman, berpakaian rapih, memiliki kepatuhan yang kuat dalam mengikuti aturan, serta memiliki kesanggupan untuk menyelesaikan tugas dengan dilandasi semangat untuk medapatkan karya terbaik. Menghasilkan karya-karya kreatif, mengungkapkan pikiran ke dalam bentuk secara lisan dan tertulis. Siswa juga menunjukkan kemampuan untuk menjelaskan ide, menghimpun dan mengolah data serta menafsirkan data. Memperhatikan pendapat, sampai dengan berusaha memperoleh hasil ulangan dan hasil ujian yang baik. Yang menjadi indikator utama yaitu indeks prestasi kumulatif atau rata-rata nilai raport siswa dalam 6 semester, keterampilan hidup dan sikap yang baik.

Pada ruang lingkup lain terdapat pula indikator mutu jumlah siswa yang naik kelas, tinggal kelas, DO, angka mengulang, angka melanjutkan, angka siswa yang tidak dapat melanjutkan pendidikan dan siswa yang masuk dunia kerja. Semuanya merupakan bagian dari indikator keberhasilan sekolah.

Pada ruang lingkup yang lebih luas terdapat indikator angka partisipasi murni, angka partisipasi kasar dan rata-rata lama belajar. Indikator yang terakhir lebih menggambarkan tingkat keberhasilan pemerintah dalam meningkatkan partisipasi masyarakat mengikuti pendidikan. Secara umum dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi rata-rata anggota masyarakat mengikuti pendidikan maka semakin maju tingkat kehidupan sosial dan ekonomi masyarkat itu.

Fokus utama dalam meningkatkan mutu pendidikan adalah bagaimana memfasilitasi guru mengajar sehingga siswa dapat belajar efektif. Pernyataan ini mengandung konsekuensi bahwa setiap pengelola pendidikan perlu menetapkan target prestasi yang hendak diwujudkannya.

Pada setiap aspek yang menjadi prioritas, sekolah merumuskan rencana kegiatan sekurang-kurangnya meliputi aspek berikut:

  • Adanya pernyataan tujuan, indikator keberhasilan, dan target yang spesifik.
  • Target prestasi
  • Fokus kegiatan
  • Implementasi strategi
  • Indikator keberhasilan
  • Peta waktu
  • Penanggung jawab untuk mengimplementasikan strategi
  • Menentukan peta titik pemeriksaan untuk memastikan bahwa pembaharuan berjalan sesuai dengan rencana.
  • Peluang melakukan revisi atau perbaikan

Tim pengembang mutu pendidikan Depdiknas menyatakan bahwa mutu pendidikan diukur berdasarkan (1) akses (2) relevansi, (3) efisiensi, (4) keefektifan (5) dampak program, (6) proses atau tindakan (7) daya adaptasi dan daya respon pada tiap perubahan atau inovasi (7) akuntabilitas (9) transparansi (10) kehandalan produk untuk bersaing dalam kehidupan.

Peningkatan Mutu dan Biaya

Peningkatan mutu terkait erat pada biaya. Secara tradisional mutu itu adalah tingkat kemahalan, makin tinggi mutu makin mahal harganya. Mobil yang mewah berkonotasi sebagai mobil yang sangat tinggi mutunya sehingga sangat tinggi pula harganya. Orang yang menggunakan mobil mewah memiliki harga tersendiri di masyarakat, namun mereka harus mengeluarkan uang yang lebih banyak, membayar harga dengan lebih mahal.

Deming berpikir sebaliknya, menurutnya mutu adalah efisiensi. Mutu adalah menghemat biaya sekaligus merupakan peningkatan daya kompetisi pada produk. Menurut Deming, menghasilkan produk yang bermutu adalah penghematan. Sebaliknya menghasilkan produk tidak bermutu merupakan pemborosan. Konsumen membeli barang yang tidak bermutu adalah pemborosan sekaligus menuai kekecewaan hingga melahirkan ketidakpuasan.

Menurut Deming, rumus konsep mutu adalah sebagai berikut : Mutu sama dengan poduk kerja dibagi keseluruhan biaya yang digunakan.

Semakin tinggi mutu yang dihasilkan berarti semakin rendah tingkat kegagalan dalam produksi, semakin tinggi daya tahannya, semakin panjang umurnya, semakin tinggi tingkat kepuasan konsumen dan semakin rendah tingkat kerusakan. Sebagai dampak akumulasi dari itu, maka biaya menjadi semakin rendah dan daya saing semakin tinggi.

Tips dan Strategi Memotivasi Siswa

Dalam mendorong keberhasilan mewujudkan tujuan belajar, motivasi merupakan penentu yang sangat penting, bagaikan bensin yang dapat menggerakan mesin mobil menuju tempat tujuannya. Bagitulah arti penting motivasi, sebagaimana yang didefinisikan oleh Elliot (2000) bahwa motivasi adalah keadaan internal yang menyebabkan kita bertindak, mendorong kita pada arah tertentu, dan menjaga kita tetap bersemangat pada aktivitas tertentu.Motivasi membantu siswa cepat memahami pelajaran secara lebih baik sehingga mampu meraih tujuan belajar.

Pada dasarnya, motivasi ada dua jenis, yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik.

  1. Motivasi intrinsik timbul dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dorongan orang lain, tetapi atas dasar kemauan sendiri.
  2. Motivasi ekstrinsik timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena adanya ajakan, suruhan, atau paksaaan dari orang lain sehingga dengan keadaan demikian siswa mau melakukan sesuatu atau belajar.

Sebagian siswa mungkin memiliki antusiasme dan motivasi tinggi terhadap pelajaran yang diberikan guru. Namun, sebagian besar siswa yang lain membutuhkan  guru mereka menginspirasi, memberikan tantangan, dan menstimulasi mereka.

Bagi siswa yang bermotivasi diri rendah peranan guru sangat penting dalam meningkatkan motivasi ekstrinsiknya. Karakter dan tindakan guru di ruang kelas dapat mentransformasi derajat motivasi siswa sehingga menjadi lebih tinggi atau sebaliknya.

Sebagian besar siswa pada dasarnya akan merespon positif terhadap pengajaran kelas yang terorganisir dan guru yang tulus mencurahkan perhatian saat mengajar. Setiap aktivitas yang guru lakukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran secara otomatis akan menambah motivasi belajar siswa.

Tidak ada satu rumus dan formula instan yang dapat digunakan untuk memotivasi siswa. Kecuali kita memahami bahwa guru telah terdidik dan terlatih secara profesional dalam meningkatkan motivasi siswa. Secara ideal guru telah disiapkan dan terampil membangun cita-cita siswa.

Di samping guru, banyaknya faktor yang mempengaruhi motivasi siswa dalam belajar. Seperti yang diungkapkan oleh Bligh (1971) dan Sass (1989), motivasi siswa dalam belajar dipengaruhi oleh :

  • ketertarikan siswa pada mata pelajaran.
  • persepsi siswa tentang penting atau tidaknya materi tersebut
  • semangat untuk meraih pencapaian
  • kepercayaan diri siswa
  • penghargaan diri siswa
  • pengakuan orang lain
  • besar kecilnya tantangan
  • kesabaran
  • ketekunan
  • tujuan hidup yang hendak siswa capai.

Masing-masing siswa bisa dipengaruhi oleh faktor yang berbeda. Guru dapat mendorong siswa menjadi pembelajar mandiri yang bermotivasi tinggi melalui tips dan strategi berikut :

1. Menciptakan iklim belajar yang terbuka dan positif dengan menitikberatkan pada kebutuhan siswa saat ini, yaitu memenuhi apa yang menjadi motif awal ketertarikan mereka pada materi pelajaran.

2. Membuat siswa aktif berpartisipasi dalam pembelajaran. Siswa belajar dengan melaksanakan tindakan (doing), membuat (making), menulis (writing), merancang (designing), menciptakan (creating), dan memecahkan persoalan (solving). Kepasifan akan mengurangi motivasi dan keingintahuan siswa.

3. Mengajak siswa untuk menganalisis apa yang membuat kelas menjadi lebih atau kurang termotivasi. Hasil penelitian menyimpulkan setidaknya ada delapan karakteristik yang menjadi kontribusi utama pada motivasi siswa, yaitu :

  • antusiasme guru
  • relevansi materi pelajaran
  • pengaturan pengajaran
  • kesesuaian tingkat kesulitan materi
  • keterlibatan aktif siswa
  • keberagaman
  • hubungan antara guru dan siswa
  • penggunaan contoh yang sesuai, kongkrit dan mudah dipahami

4. Merancang tindakan pengajaran yang dapat memotivasi siswa

  • Menargetkan harapan yang tinggi tetapi realistik pada siswa
  • Membantu siswa merumuskan tujuan mereka
  • Memberitahukan siswa apa yang perlu mereka lakukan agar lulus mata pelajaran yang ada ajar dengan sukses
  • Membantu siswa menemukan manfaat dan pentingnya materi yang sedang dipelajari
  • Memperkuat motivasi diri siswa
  • Menghindari suasana kompetesi yang berlebihan antar siswa. Lebih baik mengarahkan siswa ke kompetisi kerja tim
  • Menunjukkan antusiasme Anda sebagai guru pada materi pelajaran

5. Merumuskan RPP yang dapat memotivasi siswa

  • Bertolak dari poin kekuatan dan ketertarikan siswa
  • Jika memungkinkan, memberikan pilihan pada siswa untuk menentukan bagian materi yang akan dibahas lebih mendalam
  • Meningkatkan level kesulitan belajar secara gradual sejalan dengan perkembangan semester
  • Memvariasikan cara Anda mengajar (role playing, debates, brainstorming, discussion, demonstrations, case studies, audiovisual presentations, guest speakers, atau small group work)

6. Mengurangi penekanan ke nilai

  • Memberikan penekanan pada pemahaman dan pembelajaran dibandingkan nilai
  • Menghindari penggunaan nilai sebagai ancaman
  • Merancang test yang mendorong siswa ke jenis pembelajaran yang Anda ingin dicapai oleh siswa. Jika ingin siswa belajar menghapal maka berikanlah soal hapalan. Namun, jika ingin siswa belajar menganalisis dan mengevaluasi, berikanlah soal yang mengarah ke sana.

7. Memotivasi siswa dengan menanggapi hasil kerja mereka

  • Memberikan umpan balik segera pada siswa
  • Memberikan penghargaan atas kesuksesan yang diraih
  • Menginformasikan kesuksesan kerja yang diraih teman mereka
  • Memberikan feedback negatif secara spesifik. Identifikasi kelemahan siswa terkait pada kinerjanya saat pengerjaan tugas, bukan pada siswa secara personal.
  • Menghindari komentar yang merendahkan diri siswa sehingga membuat mereka merasa tidak cakap.
  • Memberikan kesempatan bagi siswa untuk sukses dengan cara menugaskan hal yang tidak terlalu mudah maupun terlalu sulit.
  • Menghindari memberikan jawaban langsung pada pekerjaan rumah siswa. Berikan kesempatan pada siswa untuk berjuang menemukan jawaban
  • Membantu siswa merasa bahwa mereka adalah anggota yang berharga dalam komunitas belajarnya

8. Memotivasi siswa untuk membaca

  • Menugaskan siswa membaca materi bacaan setidaknya dua sesi sebelum dilakukan diskusi
  • Menugaskan siswa membuat pertanyaan dari bahan bacaan. sebagai reward, guru dapat mempertimbangkan pertanyaan siswa sebagai bahan ujian.
  • Menugaskan siswa untuk menuliskan beberapa kalimat yang dapat meringkas hasil bacaannya
  • Memberikan pertanyaan sederhana namun mendalam tentang bacaan tersebut. Sebagai contoh, Apakah kamu bisa memberikan satu atau dua poin dari bahan bacaan yang kamu anggap penting? atau Menurut kamu sub bab apa yang perlu kita review ulang dan diskusikan di kelas?
  • Mengadakan sesi membaca bersama di kelas secara bergantian
  • menyiapkan ujian untuk bahan yang tidak sempat didiskusikan

Uraian di atas mendeskripsikan secara singkat mengenai tips dan strategi memotivasi siswa. Tentunya rekan-rekan guru memiliki pengalaman dan permasalahan yang lebih nyata di lapangan. Semoga tips singkat ini dapat menggungah motivasi guru untuk lebih kreatif dan inovatif dalam melaksanakan tugas mendidik siswa sehingga produk belajar siswa Indonesia bisa lebih kompetitif di tengah persaingan mutu internasional.

Peran Guru Sebagai Pemimpin Pembelajaran

Kepemimpinan adalah proses penyelesaian sesuatu melalui aktivitas orang lain. Guru sebagai pemimpin harus dapat mempengaruhi, mengarahkan, membimbing, dan memotivtasi siswa agar dapat belajar. Mengajar merupakan serangkaian proses pendidikan untuk membantu siswa lebih memahami dan menguasai sesuatu.

Guru dalam kelas berperan sebagai pemimpin. Tugasnya adalah mempengaruhi siswa melalui pengembangan  organization of learning atau pengorganisasian pembelajaran.  Sukses pembelajaran bergantung pada kemampuan guru memimpin dan mengorganisasikan pembelajaran dalam kelas sehingga dapat mewujudkan produk belajar sesuai dengan tujuan.

Mengajar memerlukan dukungan suasana yang kondusif dan proses yang baik  untuk mengembangkan pengalaman siswa sehingga menjadi pengalaman yang produktif dalam interaksi sosial yang  efektif. Guru dalam proses ini berfungsi sebagai pemimpin. Suasana belajar memberikan ruang yang luas untuk berkreasi karena hati dan pikiran siswa yang terbuka. Pembelajaran yang efektif memerlukan dukungan yang baik dari berbagai komponen, di antaranya :

  1. Kesiapan psikologis siswa atau grup untuk belajar pembelajar
  2. Suasana lingkungan yang mendukung siswa beraktivitas.
  3. Fasilitas, tempat dan waktu pertemuan yang jelas, buku dan bahan materi lain untuk pembelajaran
  4. Prosedur yang rapi dan dipahami bersama (rutin dan terjadwal, atau bervariasi) yang menunjang kegiatan presentasi, diskusi dan evaluasi.
  5. Pentahapan yang jelas sehingga guru dan juga siswa mengetahui bagaimana pembelajaran akan berlangsung dan apa target yang mereka hendak capai.
  6. Seluruh bagian sumber daya diintegrasikan untuk mendukung pencapaian yang optimal,  pemeran pengatur di sini adalah guru.

Mengajar adalah mengorganisasikan orang-orang agar mengerahkan pikiran, perhatian, dan usaha sehingga mencapai tujuan yang diharapkan. Mengajar adalah kegiatan pengorganisasian. Hal tersebut menegaskan pentingnya peran seorang guru yang tidak dapat digantikan dalam fungsi organisator. Tugas seorang organisator adalah menggerakan kelompok dan individu berperan efektif mengembangkan potensi dirinya dalam mencapai tujuan bersama. Pemimpin  yang efektif menyebabkan orang-orang mengembangkan potensi individunya dalam kerja sama kelompok.

Dalam hal ini peranan utama guru sebagai organisator pembelajaran memiliki karakter sebagai berikut :

  1. Organisator yang baik bukanlah seorang otokrat. Guru tidak membuat semua keputusan atau mencoba mengarahkan setiap siswa  secara detail mengenai apa yang harus dilakukan, bagaimana cara melakukan dan kapan melakukan sesuatu. Jangan mengajari siswa memotong kayu, namun mintalah kepada mereka membuat kapal layar yang dapat berlayar di tengah samudra.
  2. Organisator yang baik menunjukkan kematangan kepemimpinan (leadership) yang positif agar dapat berfungsi secara efektif dalam menjelaskan tujuan dan menggerakan siswa mencapai hasil yang telah ditargetkan.
  3. Pemimpin yang efektif memahami masalah atau kesulitan siswa dalam belajar sehingga dapat menentukan formula pemecahan masalah sesuai dengan kebutuhan siswa belajar.
  4. Organisator yang baik membantu kelompok dan individu untuk menemukan, memformulasikan, dan menjelaskan tujuan yang ingin mereka raih. Guru tidak melulu memberitahukan siswa bahwa mereka harus belajar dan melakukan ini itu.
  5. Organisator yang baik mendelegasikan dan mendistribusikan tanggung jawab seluas mungkin. Guru mencoba mengajarkan bagaimana siswa mengatur diri pada urusan mereka secara kolaboratif. Mengembangkan kolaborasi tim membutuhkan  berpengalaman sebagai  organisator yang juga berfungsi sebagai pemimpin dan pengarah. Selagi kelas belajar bagaimana bekerja secara tim, dan masing-masing individu belajar mengendalikan pelajaran mereka, maka fungsi organisator berangsur-angsur lebih ke arah pendamping.
  6. Organisator yang baik mendorong dan menghargai inisiatif. Membiarkan  inisiatif berkembang bebas sepanjang tidak menlenceng dari jalur untuk mencapai tujuan. Inisiatif harus terkait dalam ruang lingkup pencapaian tujuan bersama kelas.
  7. Organisator yang baik lebih mengedepankan membangun kekuatan daripada mengidentifikasi  kelemahan yang ada. Guru sebaiknya berasumsi dan berprinsip bahwa setiap siswa mampu memberikan prestasi dan kontribusi, walaupun prestasi tersebut sangat rendah. Oleh karena itu, pemimpin wajib menghargai kecepatan dan perubahan serendah apa pun.
  8. Organisator yang baik mendorong kritik diri dan evaluasi diri di dalam grup. Sebagai seorang pemimpin, pengarah, dan pendamping, organisator harus dapat mengungkapkan gambaran  pencapaian yang telah diraih dan di bagian apa mereka telah gagal. Namun demikian, organisator juga harus mengembangkan kemampuan bagi setiap anggota grup agar mereka dapat melihat dan menilai sendiri prestasi dan kegagalan yang telah mereka lalui.
  9. Organisator yang baik memelihara kontrol , karena tanpa kontrol dan seorang pengontrol, dan bekerja keras secara berkelanjutan untuk mengembangkan sistem kontrol diri sendiri demi mencapai tujuan bersama.
  10. Oganisator membangun tanggung jawab sehingga tiap orang berinisiatif untuk menjaga mutu melalui optimalisasi usaha dalam memenuhi kewajibannya.
  11. Organisator mendelegasikan kewenangan kepada siswanya, memberikan ruang kepada siswa untuk menyelesaikan tugasnya melalui pengembangan inisiatif masing-masing individu sepanjang dapat menghasilkan produk yang terbaik.
  12. Organisator yang baik memantau perkembangan proses dan progres belajar sehingga berdasarkan itu guru melalukan perbaikan pelayanan belajar secara bekelanjutan.

Uraian di atas merupakan beberapa karakteristik operasional dari seorang organisator yang baik. Karakter seorang guru sebagai organisator pembelajaran. Prestasi pemimpin dinilai dari seberapa besar keunggulan bersama dapat diwujudkan. Kekuatannya terletak pada seberapa efektif mengarahkan, mendorong, membimbing, dan memotivasi siswa mengembangkan potensi dirinya melalui kerja sama tim untuk mencapai tujuan bersama.

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!